Politik Dan Media Penyebab Timnas Kalah

Partai final AFF
cup 2010 leg pertama sudah usai dengan kekalahan telak Timnas dari
tuan rumah Malaysia. Seperti yang diduga sebelumnya, Teror sinar
laser kembali mewarnai partai antara dua negara ini. Berkali-kali
kita bisa melihat sorot laser yang mengarah ke pemain Timnas
Indonesia. Sedikit banyak hal itu mengganggu konsentrasi dan
perhatian pemain timnas. Memang pertandingan sempat dihentikan
beberapa saat ketika memasuki menit ke-53, tapi sekitar 5 menit
kemudian partai ini dilanjut lagi. Setelah terhenti inilah
konsentrasi pemain yang telah terprovokasi oleh ulah suporter tak
bertanggung jawab tersebut menjadi kacau. buntut dari menurunnya
konsentrasi terlihat saat pemain Timnas sangat mudah kehilangan
bola dan akhirnya kemasukan 3 gol. Bukan kekalahan ini yang
sebenarnya mau saya soroti disini. Di sini yang perlu kita
perhatikan bersama adalah adanya pemanfaatan keberhasilan Timnas
oleh pihak-pihak tertentu untuk memperoleh simpati masyarakat
Indonesia. Kita bisa lihat mulai media cetak, telivisi, politikus
dan pejabat negara semua berlomba untuk ikut-ikutan menikmati jerih
payah perjuangan pemain timnas yang belum usai. Media cetak dan
Telivisi seakan berlomba-lomba memberitakan setiap sisi dari
masing-masing individu yang terlibat di Timnas saat ini. Bagaimana
hampir setiap hari kita bisa melihat liputan tentang pemain sampai
pelatih, mulai dari prestasi di atas lapangan, sampai hal-hal
pribadi yang tidak berhubungan dengan profesi mereka sebagai
pebola. Media massa terlalu memblow up perjuangan mereka yang masih
belum menorehkan prestasi sebagai juara. Hal ini mereka lakukan
hanya demi rating yang semu. Beberapa pemain timnas seringkali
muncul di berita gosip seperti layaknya artis-artis Indonesia yang
sarat dengan sensasi. Masih segar dalam ingatan bagaimana
infotainment mengejar berita tentang pacar Irfan Bachdim ataupun
menelisik kehidupan keluarga Cristian Gonsalez. Hal itu masih
diperparah dengan seringnya media massa mengajukan diri untuk
melakukan wawancara dengan beberapa pemain Timnas saat sebelum
ataupun sesudah latihan, padahal kejuaran belum selesai. Hal ini
yang tanpa mereka sadari malah mengganggu konsentrasi dan jadwal
personel timnas untuk berlatih dan istirahat. Kita bisa belajar
menangani dan mengarahkan keinginan media massa untuk wawancara
dari sosok pelatih Manchester United. Sir Alex sangat membatasi
pemainnya untuk diwawancara oleh media massa selain di sesi khusus
yang ada sebelum dan sesudah pertandingan. Di luar sesi khusus itu,
Fergie akan sangat selektif menerima permintaan wawancara. Masih
belum lekang dari ingatan, saat Fergie meminta media massa untuk
berhenti menelisik kehidupan pribadi Wayne Rooney saat tersangkut
suatu skandal. Bahkan dia pernah membuat larangan untuk semua
pemain MU agar tidak mempunyai akun di situs jejaring sosial
semacam facebook dan twitter, hal itu bertujuan untuk menjaga
konsentrasi pemain dan waktu istirhatnya agar tidak terganggu.
Sehingga kondisi fisik dan Psikis pemain selalu prima baik itu
sebelum dan sesudah pertandingan. Dari contoh di atas kita bisa
belajar, bagaimana seharusnya media massa dan kita selaku suporter
memperlakukan para atlet yang sedang berjuang untuk mencapai puncak
prestasinya. Boleh saja mereka terus-menerus memberitakan para
pemain, tapi sesuaikan porsinya. Karena para pemain yang masih
dalam taraf berkembang, jika terus diekspos secara tidak sengaja
para awak media telah menghambat bahkan menghancurkan karir pemain
tersebut dengan pemberitaannya. Kadang pemberitaan yang berlebih
membuat para pemain sudah merasa menjadi bintang dan enggan untuk
berlatih lebih keras lagi. Sehingga pada akhirnya karir mereka
mandeg dan membuat pemain semakin gila pujian. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah adanya beberapa element di masyarakat yang
berusaha menarik para atlet lapangan hijau ini ke panggung politik
untuk kartu kampanye mereka. Kita tentu masih ingat beberapa hari
lalu mereka diundang berkunjung ke kediaman seorang ketua partai
politik. Padahal hal itu sebenarnya bukan jalur mereka. Biarkan
para pemain berjuang mengharumkan prestasi mereka melalui bidang
olahraga yang ditekuni. Karena undangan itu berapa waktu yang
seharusnya bisa digunakan oleh pemain untuk berlatih dan istirahat
terbuang untuk acara seremonial tiada bermanfaat seperti itu.
Sementara di tempat lain Timnas Malaysia malah sibuk berlatih dan
berlatih untuk mematangkan taktik dan strategi untuk membalas
kekalahan meraka di penyisishan grup. Jadi intinya adalah biarkan
timnas berkembang terus tanpa adanya campur tangan politik dan
keinginan kotor para politikus, awak media massa dan orang-orang
yang hanya memanfaatkan olahraga untuk kepentingan pribadinya. Mari
kita belajar untuk menyanjung para atlet yang berprestasi secara
obyektif. Kalau memang ada sisi negatifnya, mari bicarakan dengan
sejujurnya agar bisa diperbaiki. Jangalah membiasakan mereka
menjadi gila sanjungan. Sudah saatnya olahraga dipegang oleh orang
yang ahli di bidangnya, bukan politikus yang sekedar menumpang nama
untuk meraih simpati. Kekalahan timnas bukan melulu karena serangan
laser, tapi kesalahan kita yang terlalu memberi sanjungan berlebih.
Sadar atau tidak kita harus introspeksi diri bagaimana cara terbaik
memberi dukungan kepada timnas. MAJU TERUS SEPAKBOLA INDONESIA
KALAH ATAUPUN MENANG AKU TETAP MENDUKUNGMU SAY NO TO NURDIN HALID
CS MARI BILANG TIDAK UNTUK POLITISASI OLAHRAGA

One thought on “Politik Dan Media Penyebab Timnas Kalah

  1. Pingback: Politik Dan Media Penyebab Timnas Kalah « Live Lid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s